Kitab Suci itu Fiksi atau Fiktif ?? Bedanya Apa??

Kitab Suci itu Fiksi atau Fiktif ?? Bedanya Apa??

“Orang seperti anda, sering salah kaprah menyandingkan kata fiksi dengan kata fakta. Padahal fiksi itu sandingannya dengan realita. Sesuatu dalam karya fiksi yang belum menjadi realita saat ini, bukan berarti itu bohong. Bisa jadi akan benar-benar terjadi di masa depan. Sedangkan kata fakta itu lawannya fiktif.”  

Fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif. Kalau saya bilang kitab suci itu fiktif, saya besok bisa dipenjara itu. Tapi kalau itu dibilang fiksi, saya punya argumen karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci.

Itulah pernyataan yang disampaikan oleh Rocky Gerung yang kian marak baru-baru ini. Pernyataan yang dilontarkan pada acara Indonesia Lawyers Club ini akhirnya menimbulkan perdebatan oleh pihak-pihak yang mungkin belum menelaah lebih lanjut makna sebenarnya dari apa yang beliau sampaikan. Mengikuti kasus Sukmawati Soekarno Putri tentang puisinya, sebagian orang menganggap bahwa kasus ini patut mendapat tindakan yang sama dengan puisi Sukmawati.

Lalu bagaimana dengan pendapat Anda?

Orang indonesia seringkali dibuat “latah” dengan satu pernyataan yang dianggap nyeleneh, Contohnya hal-hal viral namun tidak penting, jangankan penting untuk mengambil pembelajarannya saja tidak ada. Apalagi jika sudah menyangkut masalah SARA, hal ini mengindikasikan bahwa Bhineka Tunggal Ika kini sedikit banyak sudah mengalami penurunan pemahaman dan pengamalan. Kritis terhadap sesuatu memang baik untuk menciptakan keadaan yang lebih membangun, namun bagaimana jika kritik yang dilontarkan tidak didasarkan pada literatur dan kajian pemikiran yang lebih mendalam?

Sebagian dari Anda mungkin akan membenarkan pernyataan Rocky Gerung, dan tidak menutup kemungkinan bahwa sebagainnya lagi tidak menyetujuinya.

Jika Anda adalah pihak yang tidak menyetujuinya, lalu bagaimana sanggahan Anda mengenai makna fiksi pada kitab suci? Jika menurut Anda kitab suci bukanlah sebuah fiksi, lalu bagaimana Anda akan membuktikan dengan nyata hingga mampu untuk dilihat dengan kasat mata makna dan semua perumpamaan yang ada di dalam kitab suci? Misalnya saja mengenai keadaan surga dan neraka, bisakah Anda menampilkan secara langsung bagaimana keadaan didalamnya? Atau untuk menggambarkan dosa, apakah Anda dapat memaparkan bentuk, warna, dan aroma dari dosa itu sendiri?

Bagi kita yang belum pernah mengalami yang namanya mati maka kita belum bisa menyatakan bahwa siksa kubur itu adalah realita. Kita hanya mampu mengimajinasikan bagaimana suasana dan keadaan pada saat siksa kubur sedang berlangsung, pun dengan keadaan surga dan neraka. Apalagi penggambaran tentang dosa, tentu kita tidak perlu lagi bertanya seberapa beratnya jika setiap kali perbuatan dosa yang kita lakukan dapat diukur melalui timbangan, maka setiap hari pikulan dosa yang kita miliki akan semakin berat untuk dibawa kemanapun kita pergi. Semua itu tidak bisa kita fikir menggunakan logika, namun ada satu hal yang jika kita menggunakannya maka semuanya akan jelas dan membuat kita berhenti untuk mendebat penggambaran tersebut, yaitu iman.

Meletakkan Iman Diatas Logika

Logika manusia memang diciptakan sedemikian rupa sebagai satu hal yang membuat derajat kita berada diatas makhluk Tuhan yang lainnya yaitu hewan dan tumbuhan. Logika yang difikir melalui akal membuat kita mampu melakukan hal yang kita anggap benar dan menghindari hal yang kita anggap salah. Jika kita tidak mampu melogika suatu hal dan menganggapnya sebagai hal mentah yang langsung kita telan, maka kita bukanlah makhluk yang pandai menggunakan akal.

Namun untuk hal yang menyangkut ketuhanan kita tidak bisa sepenuhnya menggunakan logika. Ada hal yang harus kita letakkan jauh diatas logika, yaitu iman. Sama halnya dengan ilmu dan iman, logika tanpa iman maka Anda bukanlah apa-apa. Merujuk pada kitab suci adalah sebuah fiksi maka untuk mempercayai bahwa fiksi yang ada di dalam kitab suci adalah kenyataan yang akan terjadi suatu saat nanti adalah dengan iman. Anda akan menjadi benar saat Anda menentang keras bahwa kitab suci bukanlah fiksi ataupun kitab suci adalah fiktif, artinya Anda hanya berfikir pada logika Anda saja, maka sekali lagi Anda perlu meletakkan iman lebih tinggi diatas logika Anda. Anggapan bagi mereka yang beragama adalah

kitab suci tidaklah bersifat fiktif, kita percaya bahwa apa yang ada di dalam kitab suci akan terjadi suatu saat nanti, karena kita adalah makhluk yang beriman.

Jangankan kita sebagai makhluk beragama yang memiliki iman, seorang atheis pun percaya dengan keberadaan Tuhan, karena pada waktunya ia akan meminta pertolongan Tuhan.

Kitab suci adalah gambaran, belum menjadi satu kenyataan sebelum kita bisa merasakannya secara langsung. Definisi kitab suci bukan hanya sebatas gambaran saja, namun lebih luasnya kitab suci juga merupakan pembeda antara yang baik dan yang buruk, serta peringatan dan pembawa kabar untuk masa yang akan datang. Orang yang cerdas dan bijak akan lebih dulu mengkaji satu pernyataan dengan kemampuan yang ia miliki sebelum mulutnya bekerja untuk mencibir hal tersebut tanpa memiliki dasar. Mari kritis, namun juga jangan lupa untuk cerdas.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *