Masih ragu Berhijab?? Setelah Baca kisah ini Akhirnya banyak Wanita yang Tobat

Masih ragu Berhijab?? Setelah Baca kisah ini Akhirnya banyak Wanita yang Tobat

Jika Orang Lain Berkata Jilbab Itu Ribet, Maka Jangan Bilang kalau itu Menurutku

Oleh : Indin Rarasati

 

Sulitnya menjaga iman memang sudah bukan lagi menjadi wacana. Apalagi oleh sosok sepertiku, atau mungkin seperti kita para muslimah yang hatinya mudah tertiup nafsu ke kanan dan ke kiri. Menjadi muslimah dengan jilbabnya yang menutup dada saja masih terasa amat berat, apalagi menjaga sholat yang sempurna, kayaknya sulitnya bukan main.

Ada saja alasan dalam hati untuk masbuk, untuk menunda satu menit, lima menit, sepuluh menit dari waktu sholat hanya karena penyakit malas ini.

Pakaian yang hendaknya kita pakai dalam kehidupan sehari hari malah kadang selalu kita sepelekan, hal yang selayaknya sebagai seorang muslimah pakai saat keluar rumah atau saat bertemu laki-laki lain yang bukan mahram kita malah kita tak peduli.

BikinPenasaran.com - Alam Pedesaan Subang

Hidup di sebuah desa kecil membuat keramah tamahan masyarakatnya amat lekat. Tata cara berpaikaian dan tutur kata selalu diperhatikan unggah-ungguhnya. Sebagai anak dari seorang pedagang kelontong yang ibunya memiliki toko dirumah, aku harus siap sedia melayani pembeli kapanpun waktunya, karena kita tidak bisa menentukan kapan pembeli akan datang dan baramg apa saja yang akan dibeli. Oleh karenanya, aku harus selalu siap melayani pembeli dengan tetap menjaga auratku jika sekonyong-konyong pembeli adalah laki-laki sekitar rumah atau bahkan oang yang tidak aku kenal.

Sebagai anak dari bapak yang sering mendapatkan tamu akupun harus mampu menjaga auratku jika sewaktu-waktu datang tamu laki-laki yang juga tidak aku kenal.

Hal yang menyebalkan adalah jika pembeli atau tamu ayahku datang disaat yang tidak tepat. Sebagai manusia biasa akupun ingin memakai baju santai berlengan pendek sambil tiduran di depan tv dengan kipas menyala, menikmati waktu santai dengan beristirahat di rumah. Saat inilah waktu yang tidak tepat untuk menemui tamu ayahku maupun orang yang membeli barang dagangan ibuku, apalagi jika ayah atau ibuku sedang tidak ada dirumah mau tidak mau maka aku yang harus menemuinya.

Aku harus segera begegas memakai baju lengan panjang dan memakai jilbabku. Itupun jika sang tamu atau sang pembeli bisa sabar menanti pergantianku memakai seperangkat penutup auratku yang tidak sempurna itu. Belum lagi saat aku lupa meletakkan jilbabku sebab aku seorang pelupa, harus ku cari dulu dimana diletakkannya, atau jika tidak ada akan ku pakai sekenanya jilbab yang ada. Tidak kalah menyebalkan pula jika sang tamu langsung nyelonong masuk ke rumah karena merasa sudah begitu akrabnya dengan pemilik rumah, tanp basa basi langsung masuk dan menanyakan siapa yang dia cari.

Sering orang berkata padaku, “kok ribet banget sih mau nemui tamu aja sampe begitunya cari jilbab kesana kemari, mau mengantarkan teh ke tamu ayah saja pake ganti baju segala, ribet banget!”. Atau bahkan ada yang menyuruhku untuk tidak perlu memakai jilbab toh melayani pembeli hanya sebentar, atau menemui tamu toh tamunya sudah dikenal. Mungkin beberapa dari pembaca setuju dengan argumen ini, namun saya tidak!

Kesal memang mendengar omongan orang yang tidak mendukung langkah baik kita. Memang apa yang mereka fikirkan tentang menjaga aurat yang serba ribet adalah benar. Namun anggapan mereka untuk bertemu lawan jenis tanpa memakai aurat meski sebentar adalah salah. Lelaki siapapun yang bukan menjadi mahram kita tidak berhak melihat aurat kita sebagai wanita. Jika merujuk pada kisahku diatas, secara tidak langsung niatku untuk istiqomah menjaga aurat juga tengah diuji. Seberapa malas aku mampu melawan malas dan acuh akan dosa yang kelak menimpaku dengan pakaian yang aku kenakan.

Tetaplah menjaga apa yang seharusnya dan wajibnya dijaga meski hal itu menyusahkan, meski harus menyita pengorbanan, dan meski harus membuat kita berusaha lebih keras dari orang lain. Orang lain yang melihat hanya belum mengerti, maka simpanlah kekesalan yang kita rasakan sebagai rasa syukur bahwa kita telah menjadi orang yang lebih dulu mengerti tentang kebenaran yang sesungguhnya, maka yang ada hanyalah pembuktian kita kepada orang lain bahwa wanita muslimah sejatinya cantik dan indah dengan aurat yang tertutup.

Hal yang saya takutkan adalah membawa ayah saya ke neraka, karena satu langkah putrinya keluar rumah tanpa menutup aurat, maka satu langkah itu ia mengantar ayahnya pada pintu neraka. Sepele memang, namun bagaimana jika setiap hari satu saja langkahku saat tidak menutup aurat terhitung oleh Allah diakumulasikan selama satu tahun, 365 langkahku telah mengantarkan ayahku ke neraka mungkin sudah sampai ke dasarnya. Lalu dengan apalagi aku harus berbakti pada orang tuaku jika tidak dengan cara seperti ini? Begitupun dengan para pembaca muslimah.

BikinPenasaran.com - hijab syari

Sekali lagi, apa yang tertulis disini bukan berarti penulis adalah orang paling baik. Apa yang penulis  bagikan adalah pengalaman yang mungkin juga kalian alami dalam berusaha istiqomah menjaga aurat dalam balutan  baju yang sepantasnya, bahkan mungkin lebih parah dari ini. Aku pun bukan wanita yang telah sepenuhnya istiqomah, ada kalanya kesalahan juga aku buat karena manusia sejatinya hanya makhluk yang serba kurang. Semoga kita tergolong orang-orang yang tetap dijaga imannya dan tetap dalam balutan istiqomah yang sesungguhnya dan sepenuhnya, aamiin.

About The Author

“Allah masih mencintai anda jika masih banyak cobaan dan tantangan hidup yang datang menghampiri anda. Allah percaya bahwa anda mampu melaluinya, maka jagalah kepercayaan itu”

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *