NEKAT!! Sepasang ABG SMP ini Berani Melakukan Perbuatan Orang Dewasa

Berlandaskan Cinta, 2 Anak SMP ini Berani Melakukan hal ini! Apakah Keputusan mereka salah?

Bercumbu secara halal adalah sesuatu yang kata orang perlu persiapan yang sangat matang baik dari fisik, mental, hingga materi. Tak jarang orang yang ingin melakukan hal ubu  harus terhambat karena halangan berupa umur yang belum cukup, ketakutan akan masalah yang akan datang ketika sudah menikah, hingga alasan klasik lainnya seperti keadaan ekonomi yang belum mapan. Akhirnya kendala-kendala itulah yang seolah-olah menjadi penghalal bagi pasangan muda-mudi untuk melakukan budaya ‘pacaran’.

Namun, alasan ini tidak berlaku bagi sepasang remaja yang kini telah resmi menyandang status baru yaitu pasangan suami istri yang sah. Mereka adalah Fitra Ayu (14) dan Syamsuddin (15) yang menikah pada Senin (23/4) lalu di KUA Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Mereka mengaku bahwa alasan mereka menikah pada usia yang sangat muda ini adalah karena cinta dan takdir. Bahkan Fitra masih ingin tetap melanjutkan sekolahnya hingga bisa menjadi dokter, sedangkan sang suami Syamsuddin telah putus sekolah dan hanya menuntaskan pendidikan pada tingkat sekolah dasar saja. Bukan hanya itu, dilansir dari CNN Indonesia (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180424083921-20-293026/pasangan-siswa-smp-kami-menikah-karena-cinta-dan-takdir) mereka menuturkan untuk menunda memiliki momongan demi menggapai masa depan.

Apakah Anda turut menyetujui dengan pernikahan Fitra dan Syamsuddin karena masih dibawah umur?

Pernikahan ini sempat dilarang oleh Kemensos karena dianggap usia mereka yang belum memenuhi kelayakan untuk menikah, oleh karenanya pernikahan mereka sempat tertunda selama satu bulan karena harus mengurus perizinan kesana kemari demi dapat melangsungkan pernikahan. Berbagai respon atas keputusan mereka juga disampaikan oleh berbagai pihak.

Dalam berita yang juga disorot oleh BBC News Indonesia (http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43785313) memaparkan beberapa tanggapan dari para tokoh dan ahli mengenai pernikahan anak. Pernikahan bagi remaja dibawah 17 tahun dianggap berbahaya bagi si perempuan (Profesor Ilham Oetama Marsis, dokter ahli kebidanan dan kandungan. Akses pendidikan akan terputus sehingga pekerjaan tidak menjamin, pernikahan anak akan berkorelasi dengan kemiskinan structural, dan banyak lagi tanggapan dari ahli gender dan sebagainya yang menentang pernikahan ini. Bagaiamana menurut Anda, mana yang lebih banyak antara manfaat dan kesia-siaannya dari peristiwa ini?

Kalau begitu system pendidikannya saja yang diperbaiki, sekolah gratis, buku gratis, seragam gratis, gedung sekolah yang memadai dan terjangkau, serta tenaga pendidik yang mumpuni, sehingga tidak ada alasan anak tidak sekolah karena biaya dan akhirnya memutuskan untuk menikah!

Kalau memang ini menjadi satu masalah hingga akan menambah angka kemiskinan di Negara ini karena maraknya pernikahan anak dibawah umur, kenapa tidak diselesaikan dari sisi penyebab mengapa mereka melangsungkan pernikahan di umur sekolah? Jika memang keputusan untuk menikah di usia 14 tahun adalah karena masalah ekonomi atau kemiskinan struktural, maka jangan beratkan mereka dengan biaya pendidikan yang menjadikan hal ini alasan bagi mereka untuk tidak lagi bersekolah. Siapa lagi yang bertanggungjawab atas masalah pendidikan ini jika bukan pemerintah?

Berikanlah bukan hanya sekolah gratis, namun juga sarana dan prasarana yang gratis dan memadai. Atau jika system yang membuat mereka enggan sekolah maka sistemnyalah yang perlu diperbaiki bahkan diubah. Umur 14 tahun atau setingkat sekolah menengah pertama seharusnya memang tengah sibuk-sibuknya menikmati masa kegiatan sekolah, ekstrakurikuler, hingga bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif tentu akan membuat pemikiran anak akan teralihkan pula. Kegiatan yang positif seperti ekstrakurikuler juga akan menambah tingkat kedewasaan anak karena mereka akan dilatih memecahkan dan menyelesaikan satu masalah. Menikah di usia dimana mereka belum mampu berfikir secara matang dan dewasa tentu saja akan menimbulkan resiko yang tidak kecil. Kewajiban dan hak seorang anak ketika sudah menikah juga akan jauh berbeda saat mereka masih berada dibawah tanggung jawab orang tua. Edukasi sedini mungkin sangatlah diperlukan bukan hanya bagi anak, namun juga bagi para orang tua.

Bagaimana sikap kita seharusnya?

Tentu saja menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran. Namun satu hal positif yang perlu pula kita ambil pelajarannya dari pernikahan Fitra dan Syamsuddin, bahwa mereka telah terhindar dari dosa zina, serta mereka akan lebih lama beribadah melalui bahtera rumah tangga. Mari doakan agar sakinah, mawadah, warahmah. Serta, mari mengkaji ulang.

About The Author

“Allah masih mencintai anda jika masih banyak cobaan dan tantangan hidup yang datang menghampiri anda. Allah percaya bahwa anda mampu melaluinya, maka jagalah kepercayaan itu”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *